Optimalisasi Pelepah Daun Sawit dengan Fiber Cracking Technology (FCT) Sebagai Alternatif Pakan Ternak Ruminasia

2024-05-30 09:00:00 | Superadmin

Blog Image

Daun Kelapa Sawit

Oleh : Imbuh Budi Wibowo, S.Pt

Kementerian Pertanian (Kementan) mengestimasi luas perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 16,83 juta hektare (ha) dengan rataan produktivitas 4139,67 kg/ha pada tahun 2023 yang merupakan gabungan dari Perkebunan Rakyat, Besar Negara dan Besar Swasta. Mayoritas wilayah perkebunan kelapa sawit dari wilayah Sumatera dan Kalimantan. Pada tahun 2021 Komoditas kelapa sawit menjadi komoditas strategis karena memiliki nilai ekspor mencapai 28,77 juta US$.

Besarnya  jumlah produksi kelapa sawit maka memiliki potensi yang berbanding lurus dengan by product  yang dihasilkan. Pemanfaatan produk turunan kelapa sawit sebagai pakan untuk ternak ruminansia telah menjadi bahasan yang menarik dalam upaya meningkatkan efisiensi produksi peternakan sambil memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah di Indonesia.

Limbah dari industri kelapa sawit, seperti pelepah daun sawit, cangkang, tandan kosong, serat, dan bungkil inti sawit, memiliki potensi sebagai sumber pakan yang berharga karena kandungan nutrisinya yang dapat mendukung kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk melihat potensi produk turunan kelapa sawit dan limbahnya sebagai pakan untuk ternak ruminansia serta mengidentifikasi metode pengolahan yang efektif untuk meningkatkan nilai nutrisi dan kecernaan pakan tersebut.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang peternakan, salah satu bagian dari by product kelapa sawit, yakni Pelepah Daun Sawit (PDS). PDS saat ini menjadi salah satu limbah yang dijadikan sebagai bahan pakan ternak ruminansia. Pemanfaatan PDS sebagai bahan pakan ternak ruminansia memiliki alasan yang kuat, yakni kesediaan PDS yang berlimpah serta digolongkan ke dalam kelompok hijauan berserat. Namun, sejauh ini penggunaannya masih terkendala dengan adanya ikatan karbohidrat kompleks berupa lignoselulose dan lignohemiselulose, sehingga pemanfaatannya sebagai sumber energi masih belum maksimal.

Penggunaan PDS pada ternak ruminansia sebaiknya dilakukan setelah melalui proses, misalnya amoniasi. Namun kendala dari proses ini yaitu proses pengolahan tersebut membutuhkan waktu lama sekitar 30 hari.  Salah satu solusi untuk mempercepat waktu penggunaan PDS yaitu dengan mesin yang dikenal dengan Fiber Cracking Technology (FCT).
FCT merupakan terobosan baru dalam dunia pakan ternak. Inovasi ini dapat menurunkan kandungan serat (fraksi lignoselulosa) yang tinggi pada pakan asal limbah pertanian dan perkebunan secara signifikan dalam waktu yang singkat.  FCT layak dikembangkan  dalam rangka mendukung program sustainable development dan zero waste.

FCT merupakan mesin pengolahan pakan yang berfungsi memecah ikatan karbohidrat kompleks, yaitu lignoselulose dan lignohemiselulose, sehingga selulose dan hemiselulose dapat digunakan sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. FCT mampu mengolah bahan pakan berserat tinggi sehingga cocok untuk ternak ruminansia.  Penggunaan FCT untuk mengolah PDS menjadi bahan pakan yang disukai dan berkualitas tinggi dapat disukai oleh peternak. Hal ini dikarenakan durasi pengolahannya jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan jenis pengolahan lainnya sebab hanya membutuhkan 2,5-3 jam. 
Prinsip kerja FCT itu sendiri adalah memanfaatkan suhu dan tekanan tinggi. PDS ditambah dengan larutan urea 3% BK dimasukkan ke dalam FCT, lalu suhu diatur sampai dengan 135°C dengan tekanan 2,5 atm selama 2,5-3 jam, suhu dan tekanan tinggi tersebut dapat merusak jaringan sel tanaman tempat ikatan lignohemiselulose dan lignoselulose, kemudian larutan urea kimia berperan dalam memecah ikatan tersebut. Kandungan lignin mengalami penurunan yang berdampak pada penurunan serat kasar, sehingga penggunaan PDS dalam formulasi pakan ternak ruminansia dapat mencapai 60% lebih tinggi dari model pengolahan lainnya. Rekomendasi penggunaan PDS hasil FCT 60% ditambah konsentrat mix 20% dan Indigofera sp. 20%, karena menggambarkan hasil yang terbaik dalam meningkatkan produktivitas ternak.

Secara keseluruhan, tulisan ini menunjukkan bahwa produk turunan kelapa sawit beserta limbahnya memiliki potensi yang besar sebagai sumber pakan untuk ternak ruminansia. Pengolahan limbah kelapa sawit terutama pelepah daun sawit (PDS) menjadi pakan ternak ruminansia merupakan salah satu solusi untuk mengurangi limbah industri kelapa sawit serta mampu meningkatkan efisiensi produksi peternakan. Implikasi praktis dari tulisan ini adalah bahwa peternak dapat memanfaatkan limbah kelapa sawit secara ekonomis dan lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan ternak mereka sambil mendukung industri kelapa sawit yang berkelanjutan. (disarikan dari berbagai sumber). #ibw#

Detect Feed Patie

Tracking Status Hasil Pengujian

Survei Kepuasan Pelanggan

Yuk bantu tingkatkan kualitas pelayanan kami agar lebih baik lagi kedepannya!

Agenda Kegiatan
Lokasi Kami
Timeline Kegiatan
Grafik
Tautan